JALAN RAYA TIMUR KM 32 NO 589 DESA CICALENGKA WETAN KECAMATAN CICALENGKA KABUPATEN BANDUNG
Tel: 6202 2794 9174 | Website
Reg. Name: Cv. Tuturubus
Also found in Alphabet C
@Cv. Tuturubus
CV. TUTURUBUS
Tentang Kami

CV. TUTURUBUS

Penangkar Benih dan Bibit Pertanian serta Kehutanan yang beralamat di Jalan Raya Timur KM 32 (Kp. Cikurutug RT 001 RW 012) Desa Cicalengka Wetan Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung 40395

Produk & Servis

Tanaman Jabon dan Tanaman Tumpang sari (Jagung)

Spesialisasi

Jabon atau dalam bahasa latinnya disebut Anthocephalus cadamba merupakan tanaman kayu yang sebenarnya tumbuh liar di hutan. Tumbuhan ini sebenarnya dulu di tahun 1970-an sangat terkenal namun karena perkembangan eksploitasi hutan dan beralih fungsinya hutan menjadi ladang atau kebun menjadikan tanaman ini sulit ditemukan. Tanaman jabon sebenarnya merupakan tanaman yang dapat menjadi konservasi bagi tanah dan hutan karena sifatnya yang memiliki akar serabut dan banyak sekali menyerap air. Sebagai tanaman hutan, jabon jarang sekali dibudidayakan karena karakteristik tanamannya membuat budidaya jabon menjadi unik dan sangat bergantung pada alam sehingga tidak dapat direkayasa. Tanaman jabon mulai dilirik oleh pelaku ekonomi semenjak bahan baku industri perkayuan memiliki keterbatasan sumber daya sehingga memerlukan alternatif bahan baku. Ketersediaan bahan baku industri perkayuan seperti jati, , mahoni, dll sangat terbatas karena memang umur tebang pohon yang relatif lama (lebih dari 8 tahun).

C. Karakteristik Tanaman jabon yang unik :

  1. Jabon mudah tumbuh tanpa perlakuan khusus dan ekstrim.
  2. Batang jabon memiliki karakteristik yang unik yaitu silinder dan tegak lurus.
  3. Cabang jabon dapat rontok dengan sendirinya sesuai dengan umur dan iklim sehingga dapat mengoptimalkan tumbuh kembang batangnya secara mandiri.
  4. Warna kayu jabon putih kekuning-kuningan sehingga memenuhi syarat karakteristik bahan baku furniture.
  5. Serat kayu jabon padat halus, sangat sesuai untuk produk plywood atau furniture.
  6. Jabon memiliki ekologi tumbuh pada ketinggian 0 sampai 1500 dpl sehingga memiliki cakupan kesesuaian tanam yang lebih luas dibanding tanaman kayu yang lain
  7. Tanaman jabon dapat tumbuh pada pH tanah antara 4,5 sampai 7,5.
  8. Tanaman jabon dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1500 s.d 3000 mm/th.
  9. Suhu lingkungan tempat tanaman jabon tumbuh berkisar antara 14 sampai 40°C
  10. Usia tebang jabon relatif singkat yaitu berkisar antara 5 sampai 8 tahun
  11. Secara ekonomis, jabon merupakan bahan baku untuk pembuatan industri multipleks,
  12. kertas, furniture, kerajinan tangan, pensil, dll.

  1. D. Menanam Jabon Bagaikan Menanam Emas

Jabon (Anthocephalus cadamba), adalah salah satu jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis dengan ketinggian 0-1000 m dpl (di atas permukaan laut). Saat ini jabon menjadi andalan industri perkayuan, termasuk kayu lapis, karena jabon memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan tanaman kayu lainnya termasuk sengon / albasia. Dari hasil uji coba yang telah dilakukan, keunggulan tanaman jabon dapat diuraikan dari beberapa sisi, diantaranya adalah:

  1. Diameter batang dapat tumbuh berkisar 10 cm/th.
  2. Masa produksi jabon yang singkat, hanya 4-5 tahun.
  3. Berbatang silinder dengan tingkat kelurusan yang sangat bagus.
  4. Tidak memerlukan pemangkasan karena pada masa pertumbuhan cabang akan rontok sendiri (self prunning).
    1. E. Nilai Ekonomi

Budidaya tanaman jabon akan memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan apabila dikerjakan secara serius dan benar. Perkiraan dalam 4-5 tahun mendatang, diperoleh dari penjualan 625 pohon berumur 4-5 tahun sebanyak 800-1.000 m3 per ha. Prediksi harga jabon pada 5 tahun mendatang Rp1,2-juta/m3. Dengan harga jual Rp1,2 juta per m3 dan produksi 800 m3, maka omset dari penanaman jabon mencapai Rp 960 juta per ha. Saat ini harga per m3 jabon berumur 4 tahun mencapai Rp 716.000; umur 5 tahun Rp 837.000. Andai harga jabon tak terkerek naik alias Rp 716.000 per m3, maka omset dari budidaya jabon Rp 572.800.000. Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan pada tanaman jabon setelah dipanen pada usia 5-10 tahun (asumsi harga terendah, dan batang terkecil) pada setiap batang kayu jabon diperoleh : Tinggi batang yg bisa terjual rata-rata 12 m. Diameter batang rata-rata 30 cm. Maka dari tiap batang pohon jabon menghasilkan kayu yang bisa dijual sebanyak 1,5 m³, sedangkan harga per kubik saat ini Rp 1.000.000,- Sehingga harga terendah 1 batang pohon jabon usia 5-10 tahun minimal seharga Rp 1.500.000,-. Informasi Harga kayu jabon per kubik pada tahun 2009 :

  1. Diameter 30-39 cm, Rp 1.000.000,-
  2. Diameter 40-49 cm, Rp 1.100.000,-
  3. Diameter > 50 cm, Rp 1.200.000,-.

Harga ini diprediksi akan mengalami kenaikan seiring dengan tingkat kebutuhan/permintaan yang semakin bertambah tiap tahunnya, sedangkan persediaan kayu jabon semakin lama semakin terbatas. Dalam 1 Ha lahan, 1000 batang bibit jabon dengan jarak tanam 3 m x 3 m, dapat ditanam sebanyak 2500 batang bibit jabon dengan jarak tanam 2 m x 2 m .

PELUANG INVESTASI

Dengan gambaran mengenai pohon kayu Jabon diatas, menimbulkan sebuah peluang bisnis yang sangat menjanjikan, dengan kondisi persaingan dibidang tersebut saat ini masih sangat sedikit, sehingga ketika saat ini kita ikut andil dalam peluang bisnis ini maka adalah pelopor atau orang yang pertama merasakan kesuksesan dibidang Penanaman Pohon kayu Jabon. Adapun nilai besaran Investasinya adalah sebagai berikut :

  1. Pola Tanam 2x2 m (2500 pohon) adalah sebesar Rp. 35.000.000,-
  2. Pola Tanam 2x2,5 m (2000 pohon) adalah sebesar Rp. 32.500.000,-
  3. Pola Tanam 2x3 m (1600 pohon) adalah sebesar Rp. 30.000.000,-
  4. Pola Tanam 3x3 m (1000 pohon) adalah sebesar Rp. 27.500.000,-
  5. Pola Tanam 4x4 m (625 pohon) adalah sebesar Rp. 25.000.000,-

Dengan Sistem pembayaran secara bertahap :

  1. Pembayaran pertama sebesar 60%, dibayarkan pada saat penandatanganan Buku perjanjian kerjasama Penanaman pohon kayu Jabon di depan Notaris
  2. Pembayaran selanjutnya yang sisa 40%, dibayarkan secara angsuran per 3 bulan satu kali selama 3 tahun

Catatan :

Investasi Tanaman Tumpang Sari tidak mutlak tapi tergantung kesediaan pihak Investor.

RINCIAN ANALISA USAHA BUDIDAYA JABON

  1. 1. Investasi Tanaman Kayu Jabon

1.1. Analisa Anggaran Biaya

Pada Luasan 1 Hektar Lahan dengan pola Tanam 2x2 m (2500 pohon)


1. Pembelian Bibit 2.500/batang x Rp. 2.500,- : Rp. 6.250.000,-

2. Pembelian Bibit Penyulam 625/batang x Rp. 2.500,- : Rp. 1.562.500,-
3. Peralatan Rp. 2.500.000,-/set : Rp. 2.500.000,-
4. Pembelian Pupuk (NPK, Urea, Pupuk Kompos) : Rp. 9.687.500,-
5. Biaya Tenaga Kerja
a. Pengolahan Lahan 50.000/HOK x 50 HOK/Hektar : Rp. 2.500.000,-
b. Lubang Tanam 50.000/HOK x 75 HOK/Hektar : Rp. 3.750.000,-
c. Penanaman 50.000/HOK x 25 HOK/Hektar : Rp. 1.250.000,-

6. Biaya Perawatan/pemeliharaan selama 5 tahun : Rp. 5.000.000,-
7. Pestisida
a. Insektisida Kondisional Rp.250.000,-/tahun x 5 tahun : Rp. 1.250.000,-
b. Fungisida Kondisional Rp.250.000,-/tahun x 5 tahun : Rp. 1.250.000,-

8. Budidaya Tumpangsari Kunyit /Jaminan Perawatan Petani : Rp. 13.000.000,-
JUMLAH : Rp. 48.000.000,-

1.2. Penerimaan Dalam Investasi Jabon

Pada Luasan 1 Hektar Lahan Pola Tanam 2x2m (2500 Pohon)

1. Penjarangan

Estimasi 0,5 m3/pohon di usia 3-4 tahun x 1250 pohon = 625 m3

Hitungan : 625 m3 x Rp. 1.000.000,- (diameter 30-39 cm) : Rp. 625.000.000,-


2. Pemanenan akhir
Estimasi 0,75 m3/pohon di usia 5 tahun x 1250 pohon = 937,5 m3

Hitungan : 937,5 m3 x Rp. 1.100.000,- (diameter 40-49 cm) : Rp. 1.031.250.000,-

1.3. Analisis Keuntungan Investasi Jabon

Pada Luasan 1 Hektar Lahan Pola Tanam 2x2m (2500 Pohon)

I. KEUNTUNGAN Penerimaan (penjarangan+Panen akhir) : Rp. 1.656.250.000,-

Biaya Operasional Panen :

  1. Biaya tebang Rp.150.000,-/m3 x 1562.5 m3 : Rp. 234.375.000,-
  2. Biaya transport Log kayu dari kebun Rp. 50.000,-/m3 x 1562.5 m3 : Rp. 78.125.000,-
  3. Biaya transport Log kayu ke Pabrik Rp.100.000,-/m3 x 1562.5 m3 : Rp. 156.250.000,-
  4. Zakat/Infak 2,5% : Rp. 41.406.250,-
  5. Retribusi (surat jalan dari pemerintah setempat) : Rp. 16.562.500,-

JUMLAH : Rp. 526.718.750,-

Jumlah Keuntungan Bersih : Rp. 1.129.531.250,-

4. BAGI HASIL KONSEP SYARIAH

Pola kerjasama dengan konsep BAGI HASIL dengan skim sebagai berikut :

Pemilik lahan = 10 %

Investor = 50 %

Petani penggarap = 20 %

Pengelola (CV. TUTURUBUS) = 15 %

Tim Keamanan = 5 %

Total = 100 %

Keterangan:

  1. PEMILIK LAHAN adalah Orang/Perusahaan/Organisasi yang mempunyai lahan dengan bukti kepemilikkan yang sah (Surat Girik/AJB/HGU/SHM).
  2. INVESTOR adalah Orang/Perusahaan/Organisasi yang membiayai penanaman awal dengan total investasi sebesar Rp. 48.000.000,- /hektar lahan.
  3. PETANI PENGGARAP adalah Kelompok Masyarakat Tani di sekitar lokasi lahan yang dibina dan bertindak sebagai pelaksana dari penanaman, perawatan dan pemanenan selama masa tanam sampai dengan panen.
  4. PENGELOLA adalah Penangkar Benih Pertanian dan Kehutanan CV. TUTURUBUS yang mengelola dan bertanggung jawab sejak mulai penanaman awal sampai dengan penjualan hasil panen.
  5. TIM KEAMANAN adalah Penanggung Jawab Keamanan Tanaman dari berbagai gangguan dari pihak luar pelaku maupun pihak dalam pelaku itu sendiri

SEHINGGA ESTIMASI PENDAPATAN:

Pemilik lahan = 10 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 112.953.125.-

Investor = 50 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 564.765.500,-

Petani penggarap = 20 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 225.906.250,-

Pengelola = 15 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 169.429.500,-

Tim keamanan = 5 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 56.476.500,-

HAK PEMILIK LAHAN ADALAH

10 PERSEN HASIL BERSIH DARI Rp. 1.129.531.250,- ATAU

SEKITAR Rp. 112.953.125,- RUPIAH/HEKTAR!

PEMILIK LAHAN DAPAT JUGA MERANGKAP SEBAGAI INVESTOR

DENGAN MEMBIAYAI PENANAMAN AWAL SEBESAR Rp. 48 JUTA/HEKTAR

SEHINGGA DI TAHUN KE-5 AKAN MEMPEROLEH HASIL:

Pemilik lahan = 10 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 112.953.125.-

Investor = 50 % x Rp. 1.129.531.250,- = Rp. 564.765.500,-

TOTAL PENDAPATAN = Rp. 677.718.625,-

HAK PEMILIK LAHAN YANG JUGA MERANGKAP SEBAGAI INVESTOR ADALAH

10% + 50% HASIL BERSIH DARI Rp. 1.129.531.250,- ATAU

SEKITAR Rp. 677.718.625,-/HEKTAR

“BIAR UANG ANDA YANG BEKERJA UNTUK

ANDA”

Catatan:

*) Pembagian hasil akan dibayarkan secara tunai, segera setelah penjualan hasil panen diakhir masa periode tanam.

**)Estimasi Perhitungan berdasarkan masukkan dari berbagai sumber dengan perkiraan hasil dan harga terendah.

Keuntungan Bersih per 5 tahun

Pemilik lahan = Rp. 112.953.125.-

Investor = Rp. 564.765.500,-

Petani penggarap = Rp. 225.906.250,-

Pengelola = Rp. 169.429.500,-

Tim Keamanan = Rp. 56.476.500,-

Keuntungan Bersih per tahun

Pemilik lahan = Rp. 112.953.125.- : 5 Tahun = Rp. 22.590.625,-

Investor = Rp. 564.765.500,- : 5 Tahun = Rp. 112.593.100,-

Petani penggarap = Rp. 225.906.250,- : 5 Tahun = Rp. 45.181.250,-

Pengelola = Rp. 169.429.500,- : 5 Tahun = Rp. 33.885.900,-

Tim Keamanan = Rp. 56.476.500,- : 5 Tahun = Rp. 11.295.300,-

Keuntungan Bersih per Bulan

Pemilik lahan = Rp. 112.953.125.- : 60 Bulan = Rp. 1.882.500,-

Investor = Rp. 564.765.500,- : 60 Bulan = Rp. 9.412.750,-

Petani penggarap = Rp. 225.906.250,- : 60 Bulan = Rp. 3.765.000,-

Pengelola = Rp. 169.429.500,- : 60 Bulan = Rp. 2.823.825,-

Tim Keamanan = Rp. 56.476.500,- : 60 Bulan = Rp. 941.275,-

Keuntungan Bersih per Hari

Pemilik lahan = Rp. 112.953.125.- : 1800 Hari = Rp. 62.751,-

Investor = Rp. 564.765.500,- : 1800 Hari = Rp. 313.750,-

Petani penggarap = Rp. 225.906.250,- : 1800 Hari = Rp. 125.500,-

Pengelola = Rp. 169.429.500,- : 1800 Hari = Rp. 94.125,-

Tim Keamanan = Rp. 56.476.500,- : 1800 Hari = Rp. 31.375,-


Cat :
- PAY BACK PERIOD (PBP) : 0.0309 %

- RETURN ON INVESTMENT (ROI) : 32,27 %
- REVENUE-COST RATIO (R/C Ratio) : 47,32 %


TANAMAN TUMPANG SARI

- Tanaman Pangan

- Tanaman Hotikultura

- Tanaman Obat

- Dll.

MANFAAT DAN FUNGSI

  1. Lingkungan Hidup

- Pelestarian Hutan

- Mencegah erosi dan banjir

- Menyimpan Cadangan air tanah

- Penghasil O2

- Keindahan alam

- Mengurangi polusi udara

  1. Pelaku Budidaya

- Menambah penghasilan

- Penambahan lapangan kerja (per Ha 2 KK x 2000 Ha lahan = 4000 KK x rata-rata 2 orang anak + 1 istri = 16000 orang penerima pemanfaat)

PANEN DAN PASCA PANEN

Langkah akhir dari proses budidaya jabon adalah kegiatan panen dan pasca panen. Proses pemanenan dan pasca panen ternyata berpengaruh besar terhadap kualitas kayu jabon yang dihasilkan. Kegiatan pemanenan dan pasca panen sangat penting untuk menjamin keberhasilan budidaya jabon bagi para pembudidaya.

1. Panen

Prinsip pemanenan tanaman jabon adalah tepat waktu dan tepat cara. Tepat waktu artinya penebangan pohon dilakukan pada saat tanaman sudah cukup umur. Sedangkan tepat cara artinya penebangan dilakukan dengan baik sehingga kayu memiliki kualitas yang baik pada akhir penebangan.

Waktu penebangan tanaman jabon sangat berpengaruh nyata terhadap kualitas kayu yang dihasilkan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penebangan kayu jabon adalah sebagai berikut :

Penebangan dilakukan pada saat tanaman cukup dewasa, minimal berumur 5-6 tahun, kecuali untuk penjarangan (3 tahun). Diameter batang juga sudah layak tebang, minimal 35-40 cm. Lebih besar diameter akan lebih baik. Penebangan sebaiknya dilakukan pada saat musim kemarau. Kayu yang dihasilkan akan lebih kering, penanganan penebangan, pengangkutan, serta penjemuran kayu akan lebih mudah. Penebangan sebaiknya dilakukan di atas jam 10 pagi untuk menjadikan kondisi lingkungan sekitar kering terlebih dahulu, sehingga mempengaruhi kualitas kayu yang dihasilkan.


2. Cara Tebang

Penebangan pohon jabon pada umumnya sama dengan penebangan pohon-pohon lain pada umumnya. Faktor keselamatan, ketepatan dan kecepatan harus diperhatikan pada saat penebangan, terutama keselamatan penebang dan masyarakat sekitar. Peralatan yang diperlukan untuk penebangan ; gergaji 5-10 orang/mesin, tali tambang, dan golok. Selain itu, dibutuhkan dewasa untuk melakukan penebangan. Langkah-langkah dalam melakukan penebangan adalah sebagai berikut :

Sebelum melakukan penebangan, amati kondisi sekitar. Tentukan arah jatuhnya pohon dengan memperhatikan tinggi pohon, arah tajuk, arah angin, dan tempat yang aman. Pangkas cabang dan ranting tanaman jabon hingga seminim mungkin untuk mengurangi dampak kerusakan yang akan ditimbulkan oleh jatuhnya pohon jabon. Bagian atas pohon diikat dengan tambang untuk membantu mengarahkan jatuhnya pohon. Setelah siap, tebang pohon pada bagian pangkal batang dengan gergaji mesin hingga cukup mudah untuk ditumbangkan (daerah luas) atau dipotong sedikit demi sedikit (daerah sempit). Penebang segera menghindar ke tempat aman. Selanjutnya, pohon ditarik hingga tumbang. Posisi penarik harus jauh dari pohon yang tumbang.
Setelah tumbang, sisa-sisa cabang dan ranting segera dibersihkan. Kemudian batang pohon dipotong-potong sesuai ukuran pesanan untuk memudahkan pengangkutan dan pengolahan.

  1. JUDUL PROGRAM

Penjalinan Kerjasama Investasi Penanaman Jabon

  1. LATAR BELAKANG MASALAH

Maraknya isu pemanasan global yang telah dirasakan saat ini, menciptakan pemikiran baru yang serba back to nature dalam berbagai segi kehidupan. Banyak sekali kegiatan penanaman pohon yang telah dilakukan oleh berbagai pihak, seperti program “KECIL MENANAM DEWASA MEMANEN” yang dicanangkan oleh Departemen Kehutanan. Pengaruh positif terhadap terhadap program tersebut, ialah kesadaran yang lebih terhadap pentingnya fungsi pohon, melalui kegiatan penanaman hingga pemeliharaan, dan kesadaran untuk mengurangi dampak dari pemanasan global. Makin banyaknya orang yang menanam akan mewujudkan sebuah pemikiran “BERPIKIR GLOBAL BERTINDAK LOKAL”. Hanya dengan menanam pohon di lingkungan sekitar kita, dampak positif tidak hanya dirasakan di lingkungan sendiri, tetapi juga dirasakan secara global, terutama dalam penggunaan dan pemanfaatan lahan tidur.

  1. PERUMUSAN MASALAH

Lahan tidur atau lahan kosong yang tidak digarap, pada dasarnya hanya ditumbuhi oleh semak belukar dan ilalang yang tidak bernilai ekonomis. Oleh karena itu, pada kegiatan usaha ini dilakukan pembuatan persemaian untuk memproduksi bibit aneka jenis tanaman (tanaman kehutanan, tanaman pertanian, tabulampot, hingga tanaman hias) dan melakukan penggarapan pada lahan tidur sebagai investasi tanaman jabon yang sangat bernilai ekonomis di masa sekarang maupun di masa mendatang mengingat semakin tinnginya permintaan kayu untuk keperluan industri perkayuan dengan sistem Agroforestry (tumpang sari).

  1. TUJUAN PROGRAM
    1. Meningkatkan kesadaran menanam pohon kepada lingkungan sekitar.
    2. Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang menanam sejak dini.
    3. Membuka lapangan kerja baru bagi diri sendiri khususnya dan bagi lingkungan sekitar pada umumnya.
    4. Memanfaatkan lahan tidur dengan sistem kerja sama (bagi hasil).
    5. LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran yang diharapkan adalah setiap masyarakat di lingkungan sekitar khususnya petani dapat mempunyai sumber penghasilan yang memadai dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dan masyarakat sekitar minimal dapat menguasai satu jenis tanaman budidaya (tanaman kehutanan, tanaman pertanian).

  1. KEGUNAAN PROGRAM

Program kerjasama ini berguna bagi diri sendiri dan mayarakat secara keseluruhan dengan membuka lapangan kerja baru dengan menawarkan sistem bercocok tanam yang lebih bernilai ekonomis.

  1. GAMBARAN UMUM SASARAN

Kegiatan Program Penanaman ini pertama akan dilakukan empat kecamatan (Kecamatan Cicalengka, Nagerg, Cikancung, dan Rancaekek) Kabupaten Bandung dengan luas lahan + 2500 Ha lahan Kritis.

H. JADWAL KEGIATAN PROGRAM

Mulai Tahun 2010 dan seterusnya


I. NAMA PROGRAM

“ Program Penjalinan Kerjasama Penanaman pohon Kayu Jabon”

J. PELAKU PROGRAM

1. PENGELOLA

adalah Penangkar Benih Pertanian dan kehutanan CV. TUTURUBUS beralamat di Jalan raya Timur KM 32 (Cikurutug) Desa Cicalengka Wetan Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung Propinsi Jawa Barat, yang mengelola dan bertanggung jawab sejak mulai penanaman awal sampai dengan penjualan hasil panen.

  1. 2. PEMILIK LAHAN

adalah Orang/Perusahaan/Organisasi yang mempunyai lahan dengan bukti kepemilikan yang sah (Surat Girik/AJB/HGU/SHM).

  1. 3. INVESTOR

adalah Orang/Perusahaan/Organisasi yang membiayai penanaman awal, baik Perorangan, BUMN, Swasta Nasional.

  1. 4. PETANI PENGGARAP

adalah Kelompok Masyarakat Tani di sekitar lokasi lahan yang dibina dan bertindak sebagai pelaksana dari penanaman, perawatan dan pemanenan selama masa tanam sampai dengan panen.

  1. 5. TIM KEAMANAN

adalah Penanggung Jawab Keamanan Tanaman dari berbagai gangguan dari pihak luar pelaku maupun pihak dalam pelaku itu sendiri

Berhubungan dengan Kategori